SMP & SMA/K se-Jembrana ikuti lomba baca berita radio 'Swara Negara'

Puluhan siswa-siswi tingkat SMP dan SMA/K sederajat se-Jembrana mengikuti lomba baca berita yang diselenggarakan radio berita, Swara Negara, Minggu (21/6) kemarin di Radio Swara Negara, lingkungan Satria, Kelurahan Pendem, Negara. Ni Putu Yudi Megantari dari SMAN 1 Negara berhasil menjadi juara 1 tingkat SMA sederajat. Sedangkan Putu Nadia Sri Narendra dari SMP 4 Mendoyo juara 1 tingkat SMP/MTs.

Siswa-siswi nampak antusias mengikuti lomba tersebut. Dengan dukungan guru maupun orangtua murid menambah semangat mereka untuk bertanding. Meski diberikan bahan bacaan berita yang baru diberikan saat lomba berlangsung namun secara keseluruhan peserta mampu menguasai dan membaca dengan baik.

SMP PGRI 2 Denpasar seleksi siswa kelas unggulan

Jika siswa di sekolah lain libur panjang, siswa dan guru di SMP PGRI 2 Denpasar nyaris tak pernah putus dari kegiatan. Kepala SMP PGRI 2 Denpasar Drs. Gede Wenten Aryasudha, M.Pd. memiliki agenda tetap yakni menyeleksi siswa yang akan masuk kelas unggulan.

Seleksi diadakana Senin (22/6) kemarin meliputi berbagai mata pelajaran. Tujuannya, untuk mendapatkan 40 siswa kelas unggulan di tiap tingkat. 'Jumlahnya kami batasi untuk 40 siswa,' ujarnya.

Dengan seleksi ini SMP PGRI 2 Denpasar yang merintis model pelayanan berbasiskan Sekolah Nasional Bertaraf Internasional (RSBI) memfokuskan diri pada peningkatan mutu alias kualitas. Sambil berjalan peningkatan mutu ini terus diikuti penambahan sarana dan fasilitas sumber belajar lainnya. Sekolah tanpa kaya dengan sumber belajar, kata dia, akan kekeringan ilmu dan inovasi. Makanya siswa dan guru di sekolah ini ia pacu untuk berkreasi mengembangkan PBM yang menarik.

Lewat seleksi ini, Aryasudha menginginkan anak-anaknya juga homogen dalam hal tertentu. Siswa yang masuk ranking 10 besar di biologi, misalnya, akan dijadikan klub biologi, demikian setersunya. Mereka ini diharapkan menjadi kader dan panutan ketika mengikuti ajang olimpiade sains atau mata pelajaran.

Enaknya lagi, kata Aryasudha, siswa di kelas unggulan ini tak dipungut biaya apa pun. Sejak lama SMP PGRI 2 Denpasar menggelar kelas khusus tanpa membebani orangtua siswa karena biaya itu disubsidi penuh oleh sekolah lewat dana komite. Kelas unggulan adalah model pembelajaran agar siswa yang cerdas mendapat pelayanan lebih, sementara siswa yang kurang juga mendapat perlakuan khusus dari guru. Dengan demikian, kat Aryasudha, komunikasi sekolah dan masyarakat terus terjaga.

Tahun ini sekolah di Jl. Meduri, Sumerta ini sukses mengantarkan siswanya lulus 100 persen, padahal jumlah siswanya terbanyak kedua di Denpasar yakni 574 orang. SMP PGRI 2 Denpasar akan menerima 500 siswa untuk 10 kelas. Pendaftaran dimulai 1 Juli 2009 setelah pengumuman UN siswa SD. Ia meminta lulusan SD segera mendaftarkan diri karena kursi terbatas.

Sumber [Bali Post]

15 PTS Bersaing di Debat Bahasa Inggris Antarmahasiswa

Sebanyak 15 PTS di Kopertis Wilayah VIII, Senin (22/6) kemarin bersaing menjadi yang terbaik dalam lomba debat bahasa Inggris antarmahasiswa di kampus Program Pascasarjana Undiknas University. Ajang ini untuk menentukan duta Kopertis VIII ke babak final di Surabaya, bulan depan.

Debat bahasa Inggris yang pertama kali diadakan Kopertis VIII ini, menurut Wakil Rektor Undiknas University yang juga Ketua Panitia Drs. Ngakan Putu Kiskenda, M.S., baru pertama kali diadakan antar-PTS. Juara I dan II akan maju ke babak final bersaing dengan duta PTN dan PTS di Surabaya. Juara nasional akan mewakili Indonesia di lomba debat internasional di Turki.

Dari 15 peserta ini ada PTS mengirimkan dua tim. Sebanyak 11 PTS berasal dari Bali, NTB dan NTT masing-masing mengirim tiga tim. 'Kami berharap tim terkuat Kopertis VIII bisa menembus ke Turki,' ujar Kiskenda.

Rifai A Nur dari Dikti membenarkan lomba ini pertama kali digelar pisah dengan PTN. Ini dilakukan untuk memberi kesempatan bagi mahasiswa PTS ikut serta menuju ke babak final.

Ia mengakui potensi mahasiswa di PTS bersaing menjadi juara dengan PTN sama besarnya. Buktinya pada lomba debat tahun lalu, dari empat tim yang masuk final, dua dari PTS. Makanya ia meminta peserta jangan pesimistis menghadapi tim dari PTN. Lomba menggunakan model debat parlemen Inggris. Tim yang terbaik, kata dia, mampu berpendapat dengan bahasa Inggris yang baik, argumentasinya bagus serta merespons secara benar pendapat lawan berdasarkan teori dan pengalaman.

Koordinator Kopertis Wilayah VIII Baharuddin AB dalam sambutan tertulisnya dibacakan Kabag Akademis Nyoman Sudiatmika menekankan perguruan tinggi memiliki peranan penting mengembangkan potensi mahasiswa sebagai kader bangsa untuk mencetak kaum intelektual dalam pembangunan. Lomba ini juga mendukung aktualisasi mahasiswa untuk ikut memecahkan berbagai masalah nasional serta memberi solusi terbaik. Makanya ia meminta debat ini bukan sekadar debat melainkan belajar berpendapat berdasarkan tataran teori secara benar.

Sumber [Bali Post]

Siswa SMPN 1 Nusa Penida banyak tak lulus

Pengumuman kelulusan siswa SMP, Sabtu (20/6) lalu, menyisakan permasalahan tersendiri bagi Kepala SMPN 1 Nusa Penida, Sutama. Pasalnya, SMPN 1 Nusa Penida menyumbang siswa tak lulus yang sangat banyak. Dari 19 siswa tak lulus di Kabupaten Klungkung, SMPN 1 Nusa Penida menyumbang 14 siswa. Sisanya (5 siswa) berasal dari beberapa SMP di Klungkung daratan. Berkaitan dengan itu, Sutama pun dipanggil Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora), Nengah Wijana, Senin (22/6) kemarin.

Oleh Kadisdikpora, Sutama dimintai penjelasan terkait ketidaklulusan siswanya. Terutama masalah persiapan yang dilakukan SMPN 1 Nusa Penida menjelang Ujian Nasional (UN) beberapa waktu lalu. 'Ya, saya menanyakan kenapa hasil UN bisa jeblok (banyak siswa tak lulus),' ujar Wijana.

Ketidaklulusan siswa SMPN 1 Nusa Penida, secara otomatis berimbas pada predikat, kualitas pendidikan SMP di Kabupaten Klungkung. Apalagi, saat pengumuman SMA beberapa waktu lalu, di Klungkung juga terdapat 7 siswa SMA yang tak lulus. Salah satunya malah siswa dari sekolah internasional (SMAN 2 Semarapura). Enam siswa lainnya dari SMA PGRI Nusa Penida.

Hal yang ditanya Kadisdik juga berupa langkah-langkah yang dilakukan SMPN 1 Nusa Penida mempersiapkan siswanya ikut UN.

Selain melakukan pemanggilan kepala sekolah, Kadisdikpora juga akan mengevaluasi SMPN 1 Nusa Penida. Baik kualitas siswa maupun guru dan kepala sekolah. Dia juga akan langsung turun ke Nusa Penida.

Kepala SMPN 1 Nusa Penida, Sutama, mengaku sudah mempersiapkan siswanya dengan sangat matang untuk menghadapi UN beberapa waktu lalu. Di antaranya, melaksanakan pemantapan, les dan berbagai program lain. Hanya, kata dia, kemampuan siswa menyerap materi pemantapan agak lemah. Hal itu yang menyebabkan banyaknya siswa tak lulus.

Sumber [Bali Post]

Bangun Lab PSPD, Kedokteran Unwar minta dukungan Pemprov Bali

Pengurus Yayasan Kesejahteraan Korpri Bali dipimpin Drs. A.A. Gede Oka Wisnumurthi, M.Si., bersama Rektor Unwar Prof. Dr. Made Sukarsa, S.E., M.S., dan pengelola Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD) Unwar, Jumat (19/6) kemarin bertemu Gubernur Bali Made Mangku Pastika untuk minta dukungan pembangunan lab dan fasilitasnya.

Pada saat itu jajaran Unwar didampingi Sekda Bali Drs. Nyoman Yasa, M.Si., selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Kesejahteraan Korpri Bali. Wisnumurthi mengungkapkan pertemuan dengan Gubernur untuk melaporkan bahwa PSPD ini sangat bermanfaat bagi masyarakat khususnya kesehatan. Di samping untuk mencegah SDM (sumber daya manusia) Bali agar tak sampai keluar daerah menempuh pendidikan kedokteran.

Secara akademis, kata dia, PSPD Unwar ini dibina langsung oleh Unud dan menjadi tugas Unud nanti memandirikan PSPD Unwar. Pengembangan program ini, kata dia, perlu didukung oleh Pemprov Bali karena bersentuhan dengan kepentingan masyarakat Bali. Dalam pertemuan itu Wisnumurthi menyerahkan proposal untuk pembangunan lab PSPD beserta gedung sekretariat. Pembangunan lab ini sepenuhnya dimintakan kepada Pemprov Bali senilai Rp 2,1 miliar belum termasuk isinya. Sedangkan gedung sekretariat senilai Rp 5,5 miliar akan dibiayai dari berbagai sumber.

Ketua PSPD Unwar Prof. Dr. Dewa Putu Widjana, DAP & Sp.Park, dan Sekretarisnya dr. Gusti Ngr. Anom Murdhana menambahkan program baru ini sangat diminati masyarakat. Hanya kuota mahasiswa barunya dibatasi 55 orang. Sebab selama ini peluang mendapatkan kursi di Fak. Kedokteran Unud sangat terbatas dibandingkan jumlah peminatnya. Biasanya peminat ke FK ini sangat sulit bergeser ke program studi yang lain.

Gebernur Made Mangku Pastika mendukung semua program pengembangan PSPD Unwar ini. Ia mengusulkan untuk merekrut 100 mahasiswa baru ke depan, dengan syarat mengajukan permohonan terlebih dahulu ke pusat.

Program ini, kata dia, sangat bermanfaat bagi masyarakat Bali dalam memberi pelayanan terbaik dalam bidang kesehatan kepada masyarakat. Bahkan ia menawarkan 70 dokter di Diskes Bali bisa dipakai sebagai dosen di Unwar.

Sumber [Bali Post]

Dwijendra pelopori ide 'tuntas belajar 16 tahun' secara gratis

Harus diakui ide-ide besar muncul di Dwijendra. Dulu Dwijendra berani dan pertama menggunakan istilah Hindu dalam pendidikan. Kini ide baru muncul lagi dari Ketua Yayasan Dwijendra Pusat, Drs. Ida Bagus Gede Wiyana dengan menerapkan pendidikan satu atap dengan tuntas belajar 16 tahun. Gratis lagi. Bagaimana pola ini dilakukan?

KONSEPNYA adalah pendidikan yang utuh yakni manawa lan medana. Dalam konsep cakra bawa dan mulat sarira, justru model pendidikan satu atap inilah yang pas untuk pendidikan lokal bermuatan spiritual Hindu.

Dwijendra mulai menggunakan Pra Widya Pesraman bagi TK, Adi Widya Pesraman (SD), Madya Widya Pesraman (SMP), Utama Widya Pesraman (SMA/SMK) dan Maha Utama Widya Pesraman (Univ. Dwijendra). Bahkan pola pendaftaran siswa baru pun menggunakan model satu atap. Kini Ketua Yayasan Drs. Ida Bagus Gede Wiyana bersiap menerapkan pendidikan holistik yang linier yakni pendidikan satu atap dengan ketuntasan belajar 16 tahun.

Jika pemerintah baru menuju Wajib Belajar 9 tahun dan 12 tahun di Denpasar, di Dwijendra dibuka pendidikan tuntas 16 tahun. Untuk itu Ida Bagus Gede Wiyana bersama Wakil Ketua Drs. Made S. Candra Jaya, M.Hum., Jumat (19/6) kemarin mengumpulkan semua kaseknya. Mereka adalah Kepala SD Gede Artana, S.Pd., Kepala SMP Drs. Nyoman Sukendra, M.Hum., Kepala SMA Ida Bagus Alit Bajra Manuaba, S.Pd., Kepala SMK Drs. Ketut Widya, M.Pd., dan Rektor Undwi I Ketut Wirawan, S.H., M.Hum.

Ia menjelaskan, Dwijendra sebagai perintis pendidikan satu atap dimulai dari SD. Lulusan SD ini bisa sekolah gratis di SMP. Jika melanjutkan ke SMA dan perguruan tinggi diberikan bebas uang gedung.

Pendidikan gratis ini dengan syarat siswa dan orangtua siswa meneken kontrak dengan yayasan untuk menyekolahkan anaknya sejak SD hingga sarjana di Undwi. Mereka yang meneken kontrak ini diberikan beasiswa penuh di SD dan SMP Dwijendra yang sering dipolitisi sebagai sekolah gratis. Mereka hanya dikenakan biaya ekstrakurikuler. Inilah yang ia sebut tuntas belajar 16 tahun.

Program ini diluncurkan untuk memberi pilihan kepada masyarakat sekolah bermutu plus keunggulan budi pekerti dan agama Hindu. 'Kan sudah ada dana BOS, kekurangannya kami yang mengatur,' ujarnya.

Ketika ditanya jika di tengah jalan mereka yang meneken kontrak memilih di luar Undwi, ia mengatakan harus dikomunikasikan dengan yayasan, yayasan akan mencarikan fakultas terdekat.

Sementara bagi siswa yang tak ingin tuntas belajar 16 tahun di Dwijendra, kata dia, tetap diterima di SD, SMP, SMA/SMK Dwijendra, dengan catatan tak mendapatkan keistimewaan gratis tersebut. Sebab ia tak ingin SDM yang dibina di Dwijendra dengan muatan budi pekerti lepas kepada pihak lain khususnya untuk silat, agama dan teknologi dasar (PTD). Di samping sebagai pertanggungjawaban atas kualitas serjana yang dicetak Dwijendra.

Kepala SMA Dwijendra Ida Bagus Alit Bajra Manuaba, S.Pd. mengatakan program ini sedang dicanangkan oleh Pemkot Denpasar. Dwijendra bisa dijadikan pilot proyek dengan harapan pendidikan linier berkualitas. Seharusnya Pemkot membantu Dwijendra untuk menjalankan program ini.

Sumber [Bali Post]